Rabu, 22 April 2009

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA DENGAN PERILAKU KEKERASAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Marah merupakan perasaan jengkel yang timbul terhadap kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman (Stuart & Sundeen, 1998). Perasaan marah berfluktuasi sepanjang rentang adaptif dan maladaptif. Bila perasaan marah diekspresikan dengan perilaku agresif dan menantang, biasanya dilakukan individu karena merasa kuat. Cara demikian dapat menimbulkan kemarahan yang berkepanjangan dan menimbulkan tingkah laku yang destruktif, sehingga menimbulkan perilaku kekerasan yang ditujukan pada orang lain maupun lingkungan dan bahkan akan merusak diri sendiri.
Respon melawan dan menentang merupakan respon yang maladaptif, yang timbul sebagai akibat dari kegagalan sehingga menimbulkan frustasi. Hal ini akan memicu individu menjadi pasif dan melarikan diri atau respon melawan dan menentang. Perilaku kekerasan yang ditampakkan dimulai dari yang rendah sampai tinggi yaitu agresif memperlihatkan permusuhan, keras dan menuntut, mendekati orang lain dengan ancaman, memberikan kata-kata ancaman tanpa niat melukai sampai pada perilaku kekerasan atau gaduh gelisah.
Perilaku kekerasan dengan resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan ini sebagian besar mudah dilihat di ruang Elang, karena ruang Elang merupakan ruang akut, ruang pertama klien rawat inap, semua gejala skizofrenia dapat jelas diobservasi. Karakteristik masalah klien di ruang Elang dari Januari –februari 2009 didapatkan data yang mengalami perilaku kekerasan terdiri dari 31 orang (20,6%). Halusinasi terdiri dari 102 orang (68%), isolasi sosial terdiri dari 12 orang (8%), HDR terdiri dari 1 orang (0,8%) dan waham terdiri dari 4 orang (2,6%).
Perawat harus mampu memutuskan tindakan yang tepat dan segera, terutama jika klien berada pada fase amuk. Kemampuan perawat berkomunikasi secara terapeutik dan membina hubungan saling percaya, sangat diperlukan dalam penanganan klien marah pada semua fase amuk / perilaku kekerasan. Dengan dasar ini perawat akan mempunyai kesempatan untuk menurunkan emosi dan perilaku amuk agar klien mampu merubah perilaku marah yang destruktif menjadi perilaku marah yang konstruktif.
Berdasarkan uraian diatas, kelompok tertarik mengangkat masalah keperawatan utama perilaku kekerasan dengan judul makalah “Asuhan Keperawatan pada Tn.M dengan masalah utama Perilaku Kekerasan di ruang Elang Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan Jakarta tahun 2009”.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Diperoleh secara nyata dan melaksanakan asuhan keperawatan pada klien dengan perilaku kekerasan.
2. Tujuan Khusus
Setelah melakukan tindakan keperawatan mahasiswa diharapkan mampu :
a. Mengkaji pada klien dengan perilaku kekerasan.
b. Merumuskan diagnosa keperawatan pada klien dengan perilaku kekerasan.
c. Merencanakan tindakan keperawatan pada klien dengan perilaku kekerasan.
d. Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan perilaku kekerasan
e. Mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilakukan pada klien dengan perilaku kekerasan.
f. Mendokumentasikan semua tindakan keperawatan yang dilakukan.

C. Proses Pembuatan Makalah
Kelompok yang berjumlah 6 orang praktek di ruang Elang selama 3 minggu yaitu mulai tanggal 10 – 25 Maret 2009, mahasiswa bertanggung jawab terhadap asuhan keperawatan semua klien yang dirawat di ruang tersebut dengan cara membagi habis pasien yang ada di ruang Elang saat mahasiswa berpraktek. Jumlah pasien yang ada 30 orang sehingga masing-masing mahasiswa mendapatkan 5 pasien. Mahasiswa memilih 2 pasien, satu untuk klien kelolaan dan satu untuk pasien resume. Berdasarkan kesepakatan kelompok setelah mengobservasi semua pasien akhirnya kelompok tertarik dan sepakat untuk memilih kasus kelolaan pada kasus Tn.M dengan masalah utama perilaku kekerasan.
Alasan kelompok memilih Tn.M. sebagai pasien kelolaan kelompok, karena pada kasus Tn. M bila tidak ditangani klien dapat melakukan tindakan kekerasan.
Asuhan keperawatan pada Tn.M diawali oleh satu orang mahasiswa yang melakukan pendekatan secara intensive sebagai klien kelolaan. Selanjutnya kelompok mengadakan interaksi secara bergantian dengan klien untuk membina hubungan saling percaya, strategi yang dilakukan yaitu dengan cara anggota kelompok secara bergantian melakukan implementasi sesuai dengan masalah yang ditemukan pada klien.
Pada tahap evaluasi, mahasiswa melakukan koordinasi antar mahasiswa terutama dalam rencana yang akan datang sehingga ada kesinambungan antara yang telah dilakukan anggota kelompok yang satu dengan anggota kelompok yang lain. Mahasiswa melakukan pendokumentasian dan mengkonsultasikannya dengan pembimbing klinik maupun pembimbing akademik tentang implementasi yang dilakukan.
Konsultasi dengan pembimbing dilaksanakan pada minggu ke-4, dan akhirnya makalah siap untuk diseminarkan pada minggu ke-5 akhir di ruang diklat rumah sakit Dr. Soeharto Heerdjan Jakarta.





BAB II
GAMBARAN KASUS

A. Pengkajian
Tn.M. berusia 35 tahun dengan No. RM 010649. klien dirawat di rumah sakit jiwa Dr. Soeharto Heerdjan pada tanggal 06 Maret 2009. Berdasarkan status klien diruangan dan keterangan keluarga pada saat dilakukan kunjungan rumah, didapatkan data bahwa klien dirumah suka gelisah, ngamuk, tidak bisa tidur, bicara sendiri, tertawa sendiri, suka curiga terhadap orang, mondar-mandir,suka melawan pada orang tua, klien suka melamun dan menyendiri, Menurut orang tua klien, klien jika ada masalah atau lagi kesal sama orang lain tidak pernah cerita tetapi klien suka menyendiri dikamar dan lama kelamaan kekesalan tersebut dilampiaskan dengan memukul. Sebelumnya klien pernah dirawat di Rumah RSCM dan pernah masuk ke yayasan Joglo kurang lebih 1 bulan. Pengobatan sebelumnya kurang berhasil, karena klien tidak teratur minum obat. Dan pada akhirnya klien dirawat inap di rumah sakit jiwa Dr. Soeharto Heerdjan. Klien mengatakan alasan klien dirawat yaitu karena klien suka pukul-pukul barang yang ada disekitarnya seperti jendela dan pintu. Klien juga mengatakan pernah memukul orang tuanya karena kesal dan marah sewaktu tidak dibelikan rokok. Klien juga mengatakan marahnya karena kesal melihat orang yang berkumpul, menurut klien orang yang berkumpul tersebut sedang membicarakannya. Klien juga mengatakan setiap dia kesal selalu melampiaskan dengan pukul-pukul atau dengan mencaci maki orang tersebut kemudian di pukul. klien mengatakan mendengar suara- suara yang menyuruhnya marah- marah dan memukul, klien mengatakan hari ini belum mandi. Pada saat dikaji ekspresi wajah klien tampak tegang, sorot mata klien tampak tajam, nada suara klien tinggi, klien tampak sedang mendengarkan sesuatu, klien tampak menoleh ke arah suara, emosi klien labil, klien juga pukul-pukul pintu ruang isolasi, badan klien tampak kotor dan menggaruk kepala, klien pukul-pukul pintu karena tidak diberikan rokok oleh perawat. Klien mengatakan merasa kesal tidak diberikan rokok. Muka klien merah, klien juga mengatakan sulit untuk menahan kekesalan dan emosi. Klien juga mengatakan emosinya tidak stabil, merasa ingin marah-marah dan mudah jengkel/kesal. Klien berkomunikasi baik tetapi nada suara naik turun, tangan klien tampak terdapat bekas luka, pada saat ditanya luka tersebut bekas memukul pintu dan jendela. Klien mengatakan merasa tidak dihargai oleh keluarga dan lingkungannya karena suka dianggap tidak waras dan tidak berguna. Orang tua klien mengatakan klien pernah kuliah tapi tidak sampai selesai. Selain itu klien juga pernah dikecewakan oleh seorang wanita karena orang tuanya menolak keinginan klien untuk mengawini anaknya. Diagnosa medik adalah gangguan psikotik akut dan sementara (F. 23) dan terapi medik Trihexypenidil 2mg :2x 1 tablet oral,Haloperidol 5mg : 2X 1 tablet oral,Chlorpromazine 100mg :1 X 1 tablet oral,Presidal 2mg : 2x 1 tablet oral
B. Masalah Keperawatan
Berdasarkan hasil pengkajian pada Tn.M dengan masalah utama perilaku kekerasan didapat masalah keperawatan sebagai berikut :

a. Perilaku kekerasan
DS :
- Klien mengatakan merasa kesal tidak diberikan rokok, sehingga klien pukul-pukul pintu ruang isolasi
- Klien mengatakan sulit untuk menahan kekesalan dan emosi
DO :
- Klien tampak emosi, muka merah, sorot mata tajam
- Nada suara naik turun
- Klien tampak pukul-pukul pintu ruang isolasi

b. Gangguang sensori persepsi : Halusinasi pendengaran
DS :
• Klien mengatakan suka mendengar suara-suara yang menyuruhnya untuk marah dan memukul orang
DO :
• Klien terlihat gelisah
• Klien tampak sedang mendengarkan sesuatu
• Klien tampak tertawa sendiri

c. Isolasi Sosial
DS :
• Keluarga mengatakan malas berkumpul dengan orang lain
DO :
• Klien tampak menyendiri
• Klien tampak mondar-mandir

d. Harga diri rendah
DS :
• Klien mengatakan malu ngobrol dengan orang lain
• Klien mengatakan merasa tidak di hargai

DO :
• Klien tampak menyendiri
• Kontak mata (-)

e. Defisit Perawatan Diri
DS :
• Klien mengatakan gatal dibagian kepala
• Klien mengatakan belum mandi
DO :
• Klien tampak badannya kotor
• Rambut Klien tampak Kusut dan Kotor
• Klien tampak menggaruk kepalanya

f. Regiment Terapeutik inefektif
DS :
• Keluarga mengatakan klien dulu pernah di rawat di RSCM.
• Klien juga sebelum dirawat di RSJSH sering berobat jalan di RSJSH tetapi klien kadang meminumnya kadang tidak
DO :
• Dari status klien, klien pernah berobat jalan dari tahun 2006 yaitu setelah dirawat di RSCM
• Klien pernah dirawat dan berobat jalan tahun 2008

g. Risiko Perilaku Kekerasan.
DS : .
• Klien mengatakan pernah memukul orang tuanya karena kesal dan marah.
• Klien mengatakan sulit untuk menahan emosinya

DO :
• Sorot mata klien tampak tajam
• Nada suara klien tinggi
• Klien terlihat sulit menahan emosinya
• Ekspresi wajah klien tampak tegang
• Klien tampak pukul-pukul pintu ruang isolasi.
• Tangan klien tampak terdapat bekas luka
C. Pohon Masalah dan Susunan Diagnosis Keperawatan
1. Pohon Masalah
Resiko Perilaku Kekerasan







Harga Diri Rendah







2. Susunan Diagnosis Keperawatan
Berdasarkan hasil pengkajian pada Tn. M, maka susunan diagnosa keperawatan berdasarkan prioritasnya adalah sebagai berikut :
a) Perilaku kekerasan
b) Resiko Perilaku Kekerasan
c) Gangguan Sensori Persepsi : Halusinasi Pendengaran
d) Isolasi Sosial
e) Harga Diri Rendah
f) Defisit Perawatan Diri
g) Koping Keluarga Inefektif
h) Regiment Terapeutik Inefektif










BAB III
TINJAUAN TEORITIS

A. Proses Terjadinya Masalah
Marah adalah perasaan jengkel yang tidak terpenuhi sebagai respon terhadap kecemasan kebutuhan yang tidak terpenuhi yang dirasakan sebagai ancaman oleh individu (Stuart and Sundeen, 1998).
Perilaku kekerasan merupakan suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik diri sendiri maupun orang lain.
Perilaku kekerasan merupakan respon maladaptif dari respon marah yang muncul sebagai akibat dari perasaan jengkel sebagai respon terhadap kecemasan, kebutuhan yang tidak terpenuhi yang dirasakan sebagai ancaman. (Stuart and Sundeen, 1998).
Perilaku kekerasan juga merupakan perasaan marah atau bermusuhan yang sangat kuat dimana individu tidak bisa mengontrol diri dan mengarah pada perilaku yang destruktif.
Saat seorang individu berada dalam suatu keadaan yang merupakan suatu ancaman bagi dirinya ataupun suatu kebutuhan, maka hal tersebut dapat menjadi stressor yang menyebabkan individu tersebut stress dan menimbulkan kecemasan. Apabila individu tidak dapat mengatasi kecemasannya, ketegangan yang dirasakan klien akan berlanjut menjadi rasa marah. Perasaan marah merupakan hal yang normal bagi individu, namun perilaku yang dimanifestasikan dan perasaan marah dapat berfluktuasi sepanjang rentang adaptif dan maladaptif.
Faktor predisposisi dari perilaku kekerasan yaitu faktor Psikologis, Biologis, dan Sosial Budaya. Faktor Psikologis yaitu kegagalan yang dialami dapat menimbulkan frustasi yang kemudian dapat mendorong individu untuk berperilaku agresif atau amuk. Masa kanak-kanak yang tidak menyenangkan, yaitu perasaan ditolak, dihina, dianiaya atau saksi penganiayaan. Reinforcement yang diterima pada saat melakukan kekerasan sering mengobservasi kekerasan di rumah atau di luar rumah, semua dapat menstimulasi individu untuk mengobservasi perilaku kekerasan.
Faktor Biologis yaitu kerusakan sistem limbik, lobus frontal, lobus temporal dan ketidakseimbangan neurotransmiter, banyak pendapat mengatakan turut berperan dalam terjadinya kekerasan. Faktor Sosial Budaya yaitu teori lingkungan sosial: mengatakan bahwa sosial akan mempengaruhi sikap individu dalam mengekspresikan marah. Norma kebudayaan dapat mendukung individu untuk berespon agresif atau kasar. Teori belajar sosial: Perilaku agresif dapat dipelajari secara langsung maupun iritasi dari proses sosialisasi.
Faktor predisposisi perilaku kekerasan yang terjadi pada klien Tn. M yaitu faktor psikologis dimana Orang tua klien mengatakan klien pernah kuliah tapi tidak sampai selesai. Selain itu klien juga pernah dikecewakan oleh seorang wanita karena orang tuanya menolak keinginan klien untuk menikahi anaknya dan gadis tersebut malah menikah dengan orang lain.
Faktor Presipitasi dari perilaku kekerasan yaitu dari faktor klien yaitu kelemahan fisik, keputusasaan, ketidakberdayaan, percaya diri kurang. Lingkungan yaitu situasi lingkungan yang ribut, kritikan yang mengarah kepada penghinaan, kehilangan orang yang dicintai / pekerjaan interaksi sosial yang provokatif dan konflik, semua hal tadi dapat merupakan perilaku kekerasan.
Sedangkan faktor presipitasi dari perilaku kekerasan yang terjadi pada klien Tn.M yaitu klien kurang percaya diri, selain itu klien pernah kecewa pada seorang gadis karena gadis tersebut telah menikah dengan orang lain.
Rentang respon






(Stuart, G.W and Sundeen, 1998)

Keterangan :
Respon marah Adaptif
Asertif : Ungkapan / pernyataan tidak suka yang diungkapkan secara langsung atau verbal tanpa menyinggung orang lain.
- Mempertimbangkan faktor sosial budaya dan lingkungan.
- Stimulus yang ada
- Merupakan respon yang adaptif
Frustasi : Terjadi karena gagal dalam mencapai tujuan
Penyebab :
a. Karena tidak realitas dalam menetapkan tujuan atau terlalu tinggi
b. Adanya hambatan saat proses menuju tujuan tersebut baik hambatan internal maupun eksternal.
Orang sudah merasa tidak mampu melakukan apa-apa.
Respon Maladaptif
Pasif : Merasa tidak berdaya, tidak mampu melakukan apa-apa.
Agresif : Perilaku yang menyertai marah dan merupakan pendorong untuk bertindak destruktif, tetapi klien masih dapat mengontrol dirinya.
Kekerasan : Perasaan marah / bermusuhan yang sangat kuat, klien tidak dapat mengendalikan diri, tidak dapat membedakan mana yang baik dan yang salah.
Perilaku klien mengarah pada perilaku destruktif.
Respon maladaptif pada klien Tn.M terletak pada respon agresif, bahkan klien sampai melakukan kekerasan. Agresif disini, klien suka merasa kesal atau jengkel.

Proses Terjadinya Kekerasan






















Tanda dan gejala perilaku kekerasan yaitu Fisik : Muka merah, berkeringat, pandangan tajam, sakit fisik, nafas pendek, tekanan darah meningkat, penyalahgunaan obat. Emosi : Tidak adekuat, rasa terganggu, tidak aman, marah / jengkel dan dendam. Sosial : Menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan humor. Spiritual : Kemahakuasaan, keragu-raguan, tidak bermoral, kebejatan, kebajikan / kebenaran diri dan kreatifitas terhambat karena tidak dapat dipilih secara rasional. Intelektual : Mendominasi, bawel, sarkasme, berdebat, dan meremehkan.
Tanda dan gejala perilaku kekerasan pada klien Tn.M. yaitu secara fisik : pandangan tajam, muka klien merah, nada suara klien tinggi. Emosi : klien mengatakan emosinya tidak stabil (labil), klien merasa kesal karena tidak diberikan rokok, klien mengatakan sulit untuk menahan kekesalan dan emosi. Klien merasa ingin marah-marah dan mudah jengkel/kesal. Sosial : klien suka mencurigai orang yang berkumpul dan klien merasa tidak dihargai oleh lingkungannya karena suka dianggap tidak waras dan tidak berguna. Sedangkan untuk tanda dan gejala secara spiritual dan intelektual pada klien Tn.M tidak ada.

B. Tindakan Keperawatan
Diagnosa keperawatan perilaku kekerasan, TUM : klien dapat melanjutkan peran sesuai dengan tanggung jawab.SP I p (klien dapat mengidentifikasi penyebab PK, klien dapat mengidentifikasi tanda dan gejala PK, klien dapat mengidentifikasi PK yang dilakukan, klien dapat mengidentifikasi akibat PK, klien dapat mengidentifikasi cara mengontrol PK, membantu klien memperaktekan latihan cara mengontrol fisik 1, menganjurkan klien memasukan dalam kegiatan harian. SP II p(mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien, melatih klien mengontrol PK dengan cara fisik 2, menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian). SP III p (mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien, melatih klien mengontrol PK dengan cara verbal, menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian). SP IV p (mengevalusi jadwal kegiatan harian klien, melatih klien mengontrol PK dengan cara spiritual, menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian). SP V p (mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien, menjelaskan cara mengontrol PK dengan minum obat, menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian).


















BAB IV
PELAKSANAAN TINDAKAN

1. Perilaku kekerasan
Tujuan umum :
Klien dapat melanjutkan hubungan peran sesuai dengan tanggung jawab
Tindakan keperawatan yang telah dilakukan :
Pada Tn.M tindakan-tindakan keperawatan telah dilakukan dalam lima kali pertemuan tujuan khusus dilaksanakan dimana membina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan prinsip komunikasi terapeutik selama satu kali pertemuan yaitu dengan menyapa klien dengan ramah seperti memberi salam, memperkenalkan diri dengan sopan, menanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien, menjelaskan maksud hubungan interaksi, menjelaskan kontrak yang akan dibuat, memberi rasa aman dan sikap empati, melakukan kontak singkat tapi sering. Kemudian dilanjutkan pada pertemuan pertama dengan mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan yaitu dengan cara memberi kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya, membantu klien untuk mengungkapkan penyebab jengkel/kesal. Mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan dilakukan yaitu dengan cara menganjurkan klien mengungkapkan yang dialami saat jengkel/marah, mengobservasi tanda perilaku kekerasan klien, menyimpulkan bersama klien tanda-tanda jengkel/kesal yang dialami klien. Mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan yaitu dengan cara menganjurkan klien untuk mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan klien, membicarakan dengan klien apakah dengan cara yang klien lakukan masalahnya selesai?. Mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan, dilakukan pada pertemuan pertama. Kenudian mengidentifikasi cara konstruktif, dalam merespon terhadap kemarahan dengan cara menanyakan pada klien ”apakah ia ingin mempelajari cara baru yang sehat?”, memberikan pujian jika klien mengetahui cara lain yang sehat, mendiskusikan dengan klien cara lain yang sehat (Secara fisik : tarik nafas dalam dan pada pertemuan kedua dilakukan implementasi dengan cara melatih klien melakukan cara mengendalikan perilaku kekerasan dengan cara memukul bantal/kasur. Pada pertemuan ketiga perawat melakukan tindakan keperawatan dengan mengevaluasi jadwal kegiatan dan melatih klien untuk mengendalikan perilaku kekerasannya secara Verbal/sosial : menolak dengan baik, meminta dengan baik, mengungkapkan perasaan dengan baik. Secara spiritual : menganjurkan klien sembahyang, berdo’a/ibadah lain, meminta pada tuhan untuk diberi kesabaran dan mengadukan pada Tuhan bahwa sedang kesal/jengkel).dilakukan pada pertemuan keempat. Mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan dilakukan selama lima kali pertemuan yaitu dengan membantu klien memilih cara yang paling tepat untuk klien, membantu mengidentifikasi manfaat cara yang dipilih, membantu klien untuk menstimulasi cara tersebut (role play), memberikan reinforcement positif, menganjurkan klien untuk menggunakan cara yang telah dipelajari saat jengkel/marah. Menggunakan obat dengan benar (sesuai program pengobatan) dilakukan satu kali pertemuan yaitu pada pertemuan kelima yaitu dengan cara mendiskusikan tentang, manfaat minum obat secara teratur, kerugian tidak minum obat, dan prinsip 5 benar dalam pemberian obat (benar obat, benar orang, benar dosis, benar waktu, benar cara). Sedangkan untuk SP III k dalam masalah perilaku kekerasan yaitu dukungan keluarga dalam mengontrol perilaku kekerasan. Kelompok sudah melakukan intervensi pada saat home visite, dimana kelompok membina hubungan saling percaya, mengidentifikasi kemampuan keluarga merawat klien, mendiskusikan kepada keluarga tentang pengertian perilaku kekerasan, tanda dan gejala perilaku kekerasan, akibat yang akan terjadi bila perilaku kekerasan tidak ditanggapi, cara keluarga menghadapi (merawat) klien perilaku kekerasan. Mendorong anggota keluarga untuk memberi dukungan kepada klien dalam mengontrol perilaku kekerasan. Menganjurkan anggota keluarga secara rutin dan bergantian menjenguk klien minimal satu kali seminggu. Memberikan pujian atas hal-hal yang telah dicapai keluarga.
Evaluasi
Kemampuan akhir yang klien tunjukkan pada masalah perilaku kekerasan adalah klien dapat membina hubungan saling percaya, klien dapat mengenal penyebab, tanda-tanda perilaku kekerasan, perilaku kekerasan yang biasa dilakukan, akibat perilaku kekerasan, serta klien dapat mengontrol perilaku kekerasan dengan secara fisik : tarik nafas dalam atau memukul bantal/kasur. Secara verbal/sosial : menolak dengan baik, meminta dengan baik, mengungkapkan perasaan dengan baik. Secara spiritual : menganjurkan klien sembahyang, berdo’a/ibadah lain, meminta pada tuhan untuk diberi kesabaran dan mengadukan pada Tuhan bahwa sedang kesal/jengkel, minum obat secara teratur, klien mendapat dukungan keluarga, klien juga dapat menyebutkan jenis obat, manfaat obat, kerugian dan efek samping obat.
Rencana Tindak Lanjut
Tindak lanjut untuk perilaku kekerasan, untuk klien adalah klien dapat melakukan cara konstruktif dalam merespon kemarahannya. Sedangkan untuk perawat adalah agar tetap mempertahankan SP I p – SP IV p (klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam merespon terhadap kemarahan) dan SP V p (klien dapat menggunakan obat dengan tepat).

2. Koping keluarga inefektif
Tujuan Umum :
Keluarga dapat merawat klien yang mengalami gangguan jiwa
Tindakan yang dilakukan :
Untuk mengetahui masalah ini, kelompok melakukan kunjungan rumah. Kegiatan yang dilakukan pada saat kunjungan rumah antara lain mendiskusikan dengan keluarga tentang faktor-faktor yang dapat menyebabkan klien sakit atau kambuh, mendiskusikan dengan keluarga tentang sikap keluarga saat menghadapi klien yang mengalami perilaku kekerasan, mendiskusikan dengan keluarga tentang pentingnya perawatan klien dirumah dan dirumah sakit, menjelaskan kepada keluarga bahwa keluarga merupakan mengambil keputusan dalam perawatan klien, mendiskusikan dengan keluarga tentang pentingnya perawatan klien dirumah dan dirumah sakit, mendiskusikan dengan keluarga cara merawat klien dirumah, mengidentifikasi bersama keluarga kondisi lingkungan yang dapat mendukung kesehatan klien, menganjurkan keluarga untuk mengatur lingkungan rumah yang mendukung kesehatan klien, menjelaskan peran dan fungsi keluarga dalam merawat klien dirumah, mendiskusikan dengan keluarga tentang fasilitas kesehatan yang terdapat dimasyarakat, mendorong keluarga untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada, mendiskusikan pentingnya peran dan potensi keluarga untuk mengatasi perilaku kekerasan, memberi motivasi keluarga untuk memberi dukungan klien selama diarawat di rumah sakit dan menyiapkan lingkungan yang mendukung kondisi klien dirumah, memberi pujian kepada keluarga atas keterlibatannya merawat klien di rumah sakit, menganjurkan keluarga untuk mengunjungi klien secara rutin dan bergantian.
Evaluasi
Kemampuan akhir yang keluarga klien tunjukkan pada masalah penatalaksanaan regimen terapeutik inefektif adalah keluarga mampu mengenal masalah kesehatan anggotanya, keluarga mampu mengambil keputusan untuk mengatasi masalah klien, keluarga dapat dan mampu merawat klien, keluarga mampu memodifikasi lingkungan yang terapeutik, keluarga dapat memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada dimasyarakat untuk merawat klien, keluarga dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada dikeluarga.
Rencana Tindak Lanjut
Tindak lanjut untuk penatalaksanaan regiment terapeutik, agar keluarga tetap berkonsultasi dan berobat jalan ke PusKesMas terdekat dengan dokter psikiater terdekat, walaupun klien sudah pulang dan selalu berobat jalan dan jangan sampai putus obat.
BAB V
PEMBAHASAN

Pada bab ini akan dibahas tentang keberhasilan tindakan yang dilakukan dan hambatan yang ditemukan selama berinteraksi dengan klien dan pemecahan masalah yang telah dilakukan sesuai dengan diagnosa keperawatan. Pada bab ini juga kelompok akan membahas kesenjangan antara teori dan kasus yang ditemukan pada Tn. M dari pengkajian sampai evaluasi.
Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Data yang diperoleh dari klien melalui interaksi dengan klien dan dari status klien yang ada di ruangan. Pada kasus Tn. M, yang kelompok amati terjadi perilaku kekerasan.
Faktor predisposisi yang menyebabkan klien mengalami gangguan jiwa karena klien pernah berhenti kuliah karena penyakit yang dialami sekarang dan karena ditanggal pacar yang sudah menikah dengan orang lain.
Dari hasil pengkajian Tn. M, ditemukan data yang sesuai dengan teori yaitu menunjukkan tanda-tanda perilaku kekerasan dimana klien mengatakan pukul-pukul benda yang terdapat disekitarnya, dan klien pun tampak berwajah tegang, wajah merah, tampak pukul-pukul pintu dan sebagainya. Pengkajian pada Tn. M tidak mengalami kesenjangan antara teori dan kasus. Berdasarkan teori maka diagnosa keperawatan yang muncul pada Tn. M yaitu perilaku kekersan.
Dalam pelaksanaan tindakan keperawatan Tn. M pada dasarnya mengacu pada tujuan khusus yang telah ditetapkan dimana bila tujuan khusus pertama telah dievaluasi dan berhasil, kelompok bisa melaksanakan tujuan khusus berikutnya, sehingga ada keterkaitan dalam melaksanakan tindakan keperawatan berdasarkan tahap-tahap yang sudah ditentukan, satu hal yang paling penting, dan itu kelompok juga memperhatikan dalam melakukan tindakan keperawatan tentang membina hubungan saling percaya antara perawat dan klien yang merupakan langkah awal dari semua tindakan keperawatan dan titik tolak keberhasilan asuhan keperawatan yang diberikan sehingga sedapat mungkin kelompok terus membina hubungan saling percaya sehingga hubungan perawat dan klien terbina terus. Pada tahap ini perawat melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana yang telah disusun. Dalam melakukan tindakan keperawatan membina hubungan saling percaya tidak ada masalah dan klien dapat mengenal perawat. Dalam prinsip diagnosa keperawatan perilaku kekerasan yaitu manajemen krisis yang terdiri dari tindakan mengisolasikan klien, mengobservasi klien, melakukan kolaborasi, dan jika perlu difiksasi pada klien Tn. M. Manajemen krisis yang dipakai pada klien Tn. M hanya mengisolasikan klien, mengobservasi klien, dan melakukan kolaborasi. Sedangkan tindakan keperawatan yang perlu diperhatikan juga yaitu tentang cara konstruktif dalam merespon kemarahan dimana terdiri dari : a). Secara fisik tarik nafas dalam jika sedang kesal/memukul bantal/kasur atau olah raga atau pekerjaan yang memerlukan tenaga, b). Secara verbal : katakan bahwa anda sedang kesal/tersinggung/jengkel (saya kesal anda berkata seperti itu saya marah karena mama tidak memenuhi keinginan saya), c). Secara sosial : lakukan dalam kelompok cara-cara marah yang sehat, latihan sertif, latihan manajemen perilaku kekerasan, d). Secara Spiritual : anjurkan klien sembahyang berdo’a/ ibadah meminta pada Tuhan untuk diberi kesabaran, mengadu pada Tuhan kekerasan / kejengkelan. Setelah perawat mengajarkan klien cara konstruktif kemudian perawat menganjurkan untuk menyebutkannya, ternyata klien dapat menyebutkan kembali apa yang sudah diajarkan dan dapat mendemonstrasikannya. Pada saat perawat menawarkan klien untuk memilih cara yang konstruktif, klien lebih memilih 4 cara yaitu yang secara fisik (tarik nafas dalam dan pukul bantal atau kasur), secara verbal/sosial dan secara spiritual. Perawat membolehkan klien latihan 4 cara tersebut kemudian menjadwalkan kedua cara tersebut. Tetapi apabila sewaktu-waktu klien ingin melakukannya klien boleh memasukkannya kejadwal.
Kemampuan klien tentang cara yang konstruktif dalam manajemen kemarahan merupakan tolak ukur keberhasilan dalam mengatasi kemarahan serta menurunkan emosi dalam perilaku amuk serta agar klien dapat merubah perilaku yang destruktif menjadi perilaku marah yang konstruktif.
Evaluasi merupakan tahap akhir dalam proses keperawatan untuk menilai hasil dari seluruh tindakan keperawatan yang telah dilakukan/dilaksanakan oleh penyusun. Data-data yang didapat tentang klien kemudian didokumentasikan.






BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan
Tahap pengkajian memerlukan waktu yang cukup lama yaitu membutuhkan kesetaraan, keterampilan berkomunikasi, membina hubungan saling percaya, komunikasi yang baik, serta memperdalam pengetahuan tentang perilaku kekersan.
Dari data yang ada penyusun memprioritaskan 8 diagnosa, yaitu: Perilaku Kekerasan, Resiko Perilaku Kekerasan, GSP : Hallusinasi, Isolasi Sosial, Harga Diri Rendah, Defisit Perawatan Diri, Koping Keluarga Inefektif, Regimen Terapeutik Inefektif.
Setelah melakukan asuhan keperawatan pada Tn. M dapat diambil kesimpulan bahwa pada dasarnya klien dengan perilaku kekerasan perlu dilakukan tindakan awal dengan membina hubungan saling percaya, mengidentifikasi bersama klien penyebab perilaku marah serta cara mengontrol marah yang asertif. Selain itu peranan terapi psikofarmaka juga tidak kalah pentingnya dalam pencapaian keberhasilan perawatan klien dengan perilaku kekerasan.
Dalam evaluasi terakhir tidak semua masalah dapat diatasi hanya diagnosa pertama, ketiga dan keempat yang teratasi sedangkan pada diagnosa keperawatan kedua, kelima telah didelegasikan ke perawat ruangan.


B. Saran
Kepada mahasiswa hendaknya lebih menyiapkan diri terlebih dahulu sebelum berinteraksi dengan klien, memberikan asuhan keperawatan secara terus menerus dan berkesinambungan, serta dapat membandingkan antara teori yang telah dipelajari dengan kenyataan yang dihadapi dilahan praktek. Selain itu juga perlu meningkatkan pengetahuan secara konseptual mengenai asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan jiwa. Selain itu juga diharapkan mahasiswa bisa melakukan home visite dan memberikan pendidikan kesehatan mengenai perawatan klien dirumah setelah pulang dari rumah sakit. Dan juga diharapkan agar keluarga dapat menerima dan merawat klien setelah pulang dari rumah sakit.











DAFTAR PUSTAKA

Keliat, Budi Anna. 1996. Hubungan Terapeutik Perawat Klien. Jakarta: EGC
. 1998. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC.
Keliat, Budi Anna, Dkk. Basic course Community Mental Health Nursing (CMHN), Modul VI Asuhan Keperawatan Klien Dewasa tentang Perilaku Kekerasan
Stuart and Sundeen. 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa edisi 3. Jakarta : EGC.
Townsend, Mary C. 1998. Diagnosa Keperawatan Pada Keperawatan Psikiatrik, edisi 3. Jakarta : EGC.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar